Minggu Berkabung

Posted by novasorangindonesia | Posted in


Minggu pertama agustus tahun 2009 ini benar - benar minggu berkabung. Hal ini tak lepas dari wafatnya tiga orang yang mempunyai nama besar dan influence yang bagitu besar terhadap orang - orang yang mengenalnya. Tiga orang itu yaitu cory aquino mantan presiden Filiphina yang begitu disayang oleh rakyatnya, Mbah Surip yang terkenal dengan lagu digendongnya, dan WS. Rendra sang pujangga fenomenal. Kehilangan ketiga orang ini merupakan kehilangan yang sangat besar buat masyarakat yang mengenal dan menjadikan mereka panutan.

Corazon Aquino, yang menjadi wanita presiden pertama di Filipina dan menggantikan Ferdinand Marcos yang berkuasa selama dekade melalui “people power” pada 1986, meninggal dalam usia 76 tahun.
Aquino, yang didiagnosa terkena kanker pada 2008, hari ini wafat di rumah sakit di Manila, menurut anaknya Benigno III, yang merupakan anggota Senat Filipina, tulis Bloomberg pagi ini.
Cory, begitu dia akrab dipanggil, dilantik menjadi presiden Filipina pada 25 Februari 1986 setelah memenangkan pemilu dengan telak.
Dia menggantikan pemerintahan Marcos yang korup dan otoriter yang berkuasa selama 20 tahun. Marcos terus menggunakan berbagai macam cara untuk mempertahankan jabatannya.
Ketika itu Amerika Serikat mengalihkan dukungannya kepada Cory Aquino. Menteri Pertahanan Juan Ponce Enrile dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Fidel Ramos, yang semula masuk dalam pemerintahan Marcos justru mendukung Aquino.
Cory menjabat sebagai presiden selama enam tahun dan menolak memperpanjang masa jabatannya. Fidel Ramos kemudian menggantikannya dan menjadi presiden Filipina sampai 1998.

Sementara itu mbah surip merupakan tokoh yang cukup unik di dunia hiburan Indonesia. Lagunya yang simpel dan syart makna membuat banyak masyarkat Indonesia yang tergila - gila akan lagu ciptaanya. Bahkan anak kecil sekalipun ingat lirik lagu tak gendongnya yang kadang ingin membuat tertawa orang - orang yang mendengarnya.
Mbah Surip merupakan sosok perwakilan orang yang sukses bukan karena bakat, bukan karena ketampanannya atau karena posisinya yang tinggi di masyarakat. Tapi lebih karena ketekunannya dan semangat yang pantang menyerah yang membuat mbah Surip bisa terkenal dan sesukses ini.
Oleh sebab itu meninggalnya mbah Surip merupakan kehilangan sosok yang luar biasa bisa dijadikan panutan karena sifat gigih dan kreatifnya. Selamat jalan mbah.... Semoga kami bisa meniru dan meneruskan perjuanganmu. We LOVE YOU PULL.

Satu lagi dunia sastra berduka atas perginya seorang tokoh pujangga terbaik negeri ini. WS. Rendra yang begitu terkenal dengan karangan - karangan yaang bertemakan sosial kini telah berpulang.
Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.
Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.
"Kaki Palsu" adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.
Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India.
Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).
Semoga dengan membaca karangannya membuat kita untuk termotivasi menghargai sastra, menghargai hidup dan tentu saja semakin mencintai negara Indonesia yang saat ini penuh luka.

SELAMAT TINGGAL CORY, MBAH SURIP dan W.S. RENDRA....................

Comments (0)